Stok beras Bulog pun dinilai tidak akan mampu mengamankan permintaan sampai akhir tahun. Pengamat ekonomi INDEF Rusli Abdulah mengungkapkan, kenaikan harga beras menjadi sulit dikendalikan karena memasuki kuartal akhir yang dimulai dari September, rata-rata produksi beras hanya 1,5 juta ton. Ia meminta pemerintah membuat manajemen stok beras yang lebih baik. Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas menyebutkan, harga beras yang meningkat ditopang oleh defisit produksi dibandingkan konsumsi bulanan. Dalam arti yang dipanen dengan konsumsi bulanan kan lebih besar konsumsi bulanan,” ujar Dwi Andreas.
Source: Jawa Pos October 04, 2019 02:03 UTC