Sementara itu, dari Desa Purwosari menuju Dusun Ngaglik yang berjarak sekitar tiga kilometer, jalannya sudah berupa cor-coran semen, sempit, dan curam. Waktu itu, bermula dari laporan adanya 16 warga dari Desa Purwosari yang mengalami penyakit kulit. Tetapi, karena sapi napasnya tersengal-sengal, kami potong karena dalam Islam tidak boleh makan sapi yang sudah mati. Tampaknya, warga di Desa Purwosari khususnya di Dusun Ngaglik tak mau berbicara tentang kasus anthrax di wilayahnya. Ngatijo menceritakan, sapi tersebut sejak dulu berasal dari Ngaglik karena indukannya berasal dari warisan orangtuanya yang sudah 20 tahun yang lalu meninggal.
Source: Republika January 23, 2017 10:00 UTC