JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi virus corona mendorong terjadinya disrupsi bisnis, namun pada saat yang sama juga meningkatkan risiko penipuan siber. Penyebabnya beragam, salah satunya adalah banyaknya pegawai yang bekerja dari luar kantor menggunakan teknologi, sehingga meningkatkan risiko keamanan siber lantaran trafik penggunaan internet yang berkali lipat. Dalam survei tersebut terlihat 17 persen dari responden telah mengalami fraud sepanjang pandemi dan hanya 18 persen responden yang telah memiliki rencana penanggulangan fraud di masa pandemi Covid–19 ini. Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia mengungkapkan, berbagai indikasi menunjukkan penipuan siber memiliki risiko untuk terus meningkat beberapa bulan mendatang, bahkan saat memasuki fase new normal. Tentukan Siapa yang akan Memimpin Inisiatif Keamanan Siber di PerusahaanPerlu menunjuk ahli anti-peretasan dalam perusahaan untuk memimpin tim ini.
Source: Kompas July 23, 2020 10:30 UTC