“Alhamdulillah sejak Mei bersamaan datangnya musim kemarau, kami bisa kembali menggarap lahan garam yang selama hampir 18 bulan nganggur total. Sudah bisa produksi lagi,” ucap Tarmin, petani garam asal Kecamatan Kandanghaur. Teknologi Geomembran ini, ungkap dia, merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang diberikan kepada para kelompok petani garam. Petani garam lainnya, Saka, menuturkan, teknologi geomembran merupakan terobosan yang sudah saatnya menjadi kebutuhan petani garam ke depan. Dari lahan satu hektare, petani garam dapat meraih pendapatan hingga puluhan juta rupiah dalam waktu produksi selama sekitar enam bulan.
Source: Jawa Pos July 23, 2017 08:37 UTC