REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai potensi invasi Amerika Serikat ke Venezuela, yang disertai upaya penguasaan cadangan minyak mentah, berisiko menghambat investasi energi terbarukan secara global. Peneliti Tata Kelola Iklim Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional, Yogi Setya Permana, mengatakan minyak murah kerap menjadi jebakan kebijakan. “Di satu sisi, negara maju menekan negara berkembang untuk segera meninggalkan energi fosil demi target iklim. “Dalam kondisi seperti ini, transisi energi di negara berkembang akan melambat, sementara ketergantungan pada bahan bakar fosil justru semakin panjang,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa transisi energi tidak pernah berlangsung di ruang yang netral, melainkan sangat dipengaruhi dinamika politik dan kepentingan global.
Source: Republika January 19, 2026 17:33 UTC