Ia pun membandingkan Telegram dengan media sosial lainnya yang memiliki kantor yang jelas. Google juga ada, yang lain juga ada," kata Samuel. Ia pun mempertanyakan bagaimana cara berhubungan yang jelas dengan Telegram, tidak hanya melalui e-mail atau web service. Ia menuturkan, meski Telegram sudah menghapus konten-konten yang berkaitan dengan ISIS, sulitnya berkomunikasi dengan Telegram masih menjadi masalah. Intinya, ujar dia, kedua belah pihak, baik Indonesia atau Telegram, harus membuat satu komunikasi yang lancar.
Source: Republika July 15, 2017 11:26 UTC