Ibu bangsa hadir sebagai upaya merebut kembali makna tersebut, bukan untuk meromantisasi peran perempuan, melainkan untuk mengembalikan agensi dan kedaulatannya. Berbeda dari feminisme liberal yang menekankan kesetaraan individual, atau feminisme sosialis yang bertumpu pada konflik kelas, feminisme Pancasila menawarkan politik kesetaraan yang berakar. Hari Ibu mengingatkan bahwa perjuangan itu berakar pada kehidupan sehari-hari, pada tubuh perempuan, relasi sosial, dan keberlanjutan generasi. Ia harus berakar pada pengalaman perempuan, pada nilai Pancasila, dan pada keberanian menata ulang arah pembangunan dari sudut pandang kehidupan. Itulah politik kesetaraan yang berakar: tidak tercerabut dari rakyat, tidak terasing dari sejarah, dan tidak kehilangan jiwa.
Source: Media Indonesia December 31, 2025 04:06 UTC