REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langkah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro serta manuver geopolitik untuk menguasai wilayah strategis dinilai berpotensi melemahkan komitmen keadilan iklim global, khususnya bagi negara-negara berkembang di Global South. Peneliti Tata Kelola Iklim Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yogi Setya Permana menilai kondisi tersebut mencerminkan paradoks politik iklim global. Negara berkembang justru dihadapkan pada risiko geopolitik dan beban sosial-ekologis yang lebih besar,” ujar Yogi, Kamis (15/1). Kepemimpinan Global South perlu diperkuat agar transisi energi berjalan adil,” kata Stanislaus. Ke depan, Indonesia dinilai dapat membangun koalisi dengan Brasil serta negara-negara berkembang lain untuk mendorong pendanaan transisi energi dan mekanisme loss and damage yang lebih berkeadilan melalui forum multilateral dan regional.
Source: Republika January 20, 2026 01:37 UTC