Di tengah riuh rendah eskalasi militer, dunia kembali dihadapkan pada pertanyaan klasik yang tak kunjung usai: siapakah sebenarnya Iran? Atau justru rezim otoriter dengan ambisi ideologis yang ikut memperdalam krisis berkepanjangan di Timur Tengah? Di satu sisi, kita ditawari narasi Barat yang membenarkan intervensi asing atas nama demokrasi, hak asasi manusia, atau non-proliferasi nuklir. Akibatnya, kita dihadapkan pada pilihan yang salah: mengagungkan Iran sepenuhnya sebagai negara perlawanan, atau mengutuknya sepenuhnya sebagai kekuatan otoriter yang menekan rakyatnya sendiri. Kenyataannya, tulis Nabawy, Revolusi Iran, yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai gerakan pembebasan dari cengkeraman imperialisme, tidak melahirkan alternatif sejati terhadap kapitalisme.
Source: Republika March 24, 2026 06:51 UTC