Didik menilai, kritik tersebut tidak boleh dibaca sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai peringatan atas arah reformasi yang dinilai terlalu jauh bergeser dari nilai dasar bangsa. Salah satu hal yang paling ditekankan Pak Try, lanjut Didik, adalah hilangnya semangat musyawarah sebagai pilar utama demokrasi Pancasila. Bagi Didik, reformasi tidak boleh identik dengan liberalisasi tanpa batas. “Ini saatnya kita merenungkan kembali arah demokrasi kita. Bagi Didik J. Rachbini, pertanyaan itulah yang menjadi warisan intelektual dan moral dari seorang Try Sutrisno untuk generasi bangsa hari ini.
Source: Republika March 02, 2026 06:46 UTC