NASKAH “Menghayati Peribahasa Indonesia yang Kenyataannya Tak Lagi Sama” (kompas.com, 3 November 2020) memperoleh berbagai tanggapan dari berbagai pihak. Utak-atikYang aman saya muat, antara lain pesohor kolomnis kesehatan popular, dr. Handrawan Nadesul, menyarankan revisi peribahasa. Pada prinsipnya yang lebih membutuhkan revisi bukan peribahasa namun manusia yang mengkhianati harapan peribahasa. PelintirSementara penguasa yang ingin berbuat sewenang-wenang memodifikasi peribahasa adiluhung Jawa ojo dumeh dipelintir menjadi ajakan adiburuk ayo dumeh. Petuah ngono yo ngono ning ojo ngono direkayasa menjadi ngono yo ngono ning yo ngono wae sementara pitutur mangan ora mangan sing penting kumpul diganti kumpul ora kumpul sing penting mangan oleh mereka yang bukan makan untuk hidup namun hidup untuk makan seperti saya.
Source: Kompas November 09, 2020 00:00 UTC