Dalam berbagai ruang —ritual, sosial, intelektual— banyak pihak berlomba merebut perhatian kesadaran manusia. Tauhid, dalam pengalaman ini, bukan sekadar konsep teologis, melainkan disiplin kesadaran. Kalimat tauhid menjadi laku hidup: la ilaha —menyadari banyak tuhan palsu yang berebut kuasa; illa—keberanian memilih; Allah—menetapkan orientasi nilai; dan Muhammad—menjadikan keteladanan sebagai jalan aktualisasi. Tanpa kesadaran tauhid, ruang digital justru menguatkan ego, bukan memperdalam makna. Dalam situasi itu, saya memilih memburu tauhid, bukan memburu ruang atau posisi mustajab.
Source: Media Indonesia January 05, 2026 14:02 UTC