Falsafah Madu dan Darah di Era Kekhalifahan Utsmaniyah - News Summed Up

Falsafah Madu dan Darah di Era Kekhalifahan Utsmaniyah


Meski tidak mengharuskan adanya pendirian ‘negara’, Islam memang tetap memberikan arti sangat penting posisi sebuah kekuasaan di mana ada pihak rakyat yang harus mentaatinya dan sebuah pemimpin negara yang harus menjalankan amanahnya dengan adil dan lurus. Selama masa kekuasaan Otoman Turki (Kekhalifahan Usmaniyah), yang meguasai sebagian atau setengah Eropa, sebagian Asia, dan sebagian Asia selama 600 tahun, arti penting kekuasaan yang bisa menghadirkan madu (kesejahteraan) dan darah (penderitaan) telah begitu disadari, sekaligus dipraktikan. Jejak istiah ‘madu’ dan ‘darah’dalam kekuasaan Usmaninyah tercatat dalam pemberian nama sebuah wilayah dari kekuasaan mereka di bagian selatan benua Eropa yang membentang dari Bosnia, Spanyol, hingga wilayah selatan Prancis. Di masa lalu, wilayah itu oleh para khafilah atau penguasa tersebt disebut sebagai wilayah ‘Balkan’: Wiayah ‘madu’ (Bal) dan ‘darah’ (kan). Maka di situlah arti dari kesadaran bahwa sebuah kekuasaan bisa menghadilan ‘madu’ dan ‘darah’ bagi rakyat yang tinggal di sebuah era pemerintahan.


Source: Republika May 14, 2017 00:56 UTC



Loading...
Loading...
  

Loading...

                           
/* -------------------------- overlay advertisemnt -------------------------- */