"Karena mereka (para punker dan pencinta musik underground) itu hidup di negara beragama, dakwah Islam tidak mustahil dapat mereka terima dengan mudah," ucapnya, belum lama ini. Dia menuturkan, jika dakwah itu disampaikan kepada kalangan punkers di negara-negara sekuler, hasilnya tentu akan berbeda. Dia menambahkan, para punker yang ada di Indonesia kebanyakan lebih cenderung memaknai punk sebagai gaya hidup (lifestyle) semata, bukan sebagai ideologi yang menentukan jalan hidup mereka. Sementara, di Indonesia, punk hanya menjadi bentuk penolakan sesaat dari anak-anak muda terhadap sistem yang dianggap tidak menguntungkan bagi mereka. "Kalaupun ada punkers di Indonesia yang betul-betul idealis mengikuti pa ham anarkisme, jumlah mereka tidaklah banyak," tuturnya.
Source: Republika July 23, 2017 16:41 UTC